Ads 468x60px

Kamis, 19 Januari 2012

Essei 1: Korosi Nilai-Nilai Luhur (Sebuah Permenungan)

Oleh Watim Subekti,S.Pd.

Pada bentangaan waktu tertentu revolusi fikir-rasa menjadi sebuah pemelajaran hidup yang kadang tak memilki definisi. Sosok manusia manapun yang pernah ada di muka bumi tak terelakan menghadapi revolusi baik secara biologis-psikologis maupun sosiologis-ekonomis. Adalah hal yang alami saja terjadi ketika paradigma yang melandasi sikap-perilaku itu harus juga berubah tatkala eksitensi hidup menjadi sebuah kenyataan yang tak dapat ditawar-tawar lagi. Dan dalam bingkai itulah proses nilai-niliai luhur yang dianut dapat mengalami pengkorosian.

Ketika kita benar-benar menyadari bahwa kesejatian fikir-rasa itu menggugat atas berbagai ketidakteraturan, ketidakadilan, ketidakmenyenangkan,ketidaktataharmonisan, maka kemunculan kesejatian fikir-rasa akan mengalir mencari keseimbangan. Dan sampailah kita pada suatu pertanyaan : masih bisakah kita mengembalikan nilaia-nilai luhur itu menjadi panutan dalam bersikap-laku dalam keseharian pada tatanan sosial manapun?

Jujur adalah sebuah karakter yang melekat pada sosok mahluk bernama manusia dengan kriteria tertentu. Tetapi pengetahuan kita sangat terbatas akan penjujuran manusia. Hingga sampai detik ini kita selalu ke-co-lo-ngan akan kejujuran itu. Penampakan kejujuran itu sendiri menjadi bagian eksploratif manusia lain yang mencoba untuk merekam satu sisi gelap pada prespektif tertentu.

Lunturnya nilai-nilai luhur yang kini betul-betul kita sadarai eksistensinya telah berdampak luas pada sisi khidupan sosio-ekonomi kita. Secara kontekstual lini terbelakng masyarakat ekonomi harus menanggung resiko itu. Bahkan mungkin memiliki nilai jual bagi pemangku kepentingan. Demikianlah adanya. Sebagaian dari kita menerimanya sebagai sebuah kenyataan hidup yang tak terelakan .

Nilai kejujuran kini menjdi komoditas langka dan berharga karena kita sulit mendapatkannya. Bagaimanapun kita dibentuk dari sebuah tatanan sosial masyarakat hingga kesendirian itu menjadi permustahilan. Dan celakannya ketika nilai-nilai luhur dalam kehidupan sosial kita mengalami korosi, kita menjadi bagaian yang tak terpisahkan.

Korupsi bukan budaya kita. Bukan pula warisan pendahulu kita. Proses korupsi terjadi pada tata-soasial hidup-kehidupan dari suatu desain sistem yang mengabaikan nilai-nilai luhur. Erosi dan korosi nilai-nilai luhur itu dari sebuah paradigma tanpa landasan moral yang kita yakini kebenarannya. Baik itu yang bersumber dari religi mapun dari kearifan budaya kita.

Apakah kita sudah kehilangan nilai-nilai luhur ? Hingga kita sampai saat ini masih tak memahami yang terjadi di sekeliling kita. Seorang ibu akan berbelanja diperkosa di kendaraan yang seharusnya bertanggung jawab atas kselamatan dan kesampaiannya.Seorang ayah menghamili anak kandungnya sendiri yang seharusnya menjadi tameng atas kesuciannya. Bundaran HI tak pernah sepi dari sebuah demontrasi. Entah itu demokrasi, politisasi atau hanya sekedar mengais rizki. Televisi tak pernah berhenti menayangkan korupsi. Dan ketika sepeda motor begitu mudah didapat, ada komunitas yang membunuh, membrutal,dan sampai ada yang menghancurkan sebuah ambulan.Sedikit contoh yang manampakkan akan kegamangan kita menyaksikan tata-perilaku hidup.

Proses pembentukan tata-prilaku kenilaian itu juga merupakan sebuah perjalanan panjang dan penuh fluktuatif. Pembiasaan mengambil sedikit peran dari rangkaian pengkarakteran. Sekolah adalah sebuah model saja bagi proses ajar sikap-laku calon warga yang akan mereparasi kembali nilai-nilai luhur masyarakat yang telah korosi. Dan suatu saat nanti kita tidak perlu lagi menginventrisasi atas karakter- karakter yang harus di kembangkan di sekolah karena semua itu merupakan nilai yang terus berkembang di masyarakat dan diwariskan turun temurun ke anak cucunya melalui tata-hidup-sosial masyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Subang, Januari 2012.

1 komentar:

 

Total Tayangan Halaman