Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label IPS Terpadu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IPS Terpadu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 April 2010

Secercah Harapan

Oleh: Euis Winarni, SE

Ditengah kegalauanku sebagai guru mata pelajaran IPS Terpadu, mata pelajaran yang menanamkan kepada siswa bagaimana cara mereka harus mengenali diri dan lingkungan mereka tinggal, bagaimana mereka bersosialisasi dengan teman, orang tua, guru dan masyarakat sekitar tanpa melupakan sejarah dan bagaimana mereka seharusnya hidup di masa yang akan datang dengan kegiatan berekonomi mereka diharapkan bisa berjuang menghasilkan berupa materi untuk mempertahankan hidupnya sendiri dan keturunannya.
Aku terkadang mengalami perasaan bersalah ketika ada beberapa siswa tidak mau seperti apa yang kuharapkan. Bisa tidak aku mendidik mereka menjadi manusia yang kelak berguna di kemudian hari untuk bertanggung jawab terhadap dirinya, keluarga, serta hidupnya di tengah lingkungan masyarakat. Aku sering mengingatkan mereka bahwa hidup ini bukan semakin mudah tetapi sebaliknya semakin banyak persaingan dalam segala hal, oeh karena itu mereka harus memiliki kecakapan hidup.
Diantara tiga ratusan siswa kelas Sembilan tersebut ada yang mencoba untuk mengaplikasikan ilmu yang telah mereka dapatkan. Salah satunya adalah seorang siswi yang membuat makanan gorengan rempeyek ( B. Sunda = géréh ) daun pepaya, dan daun bayam. Modal awalnya dari orang tuanya kemudian gorengan tersebut di jual kepada teman-temannya ( harapan ibu bisa dijual juga di koperasi siswa) dari hasil penjualannya digunakan untuk membeli bahan-bahan produksinya, uang bekal ke sekolah dan ditabung untuk melanjutkan sekolah ( ingin melanjutkan ke SMKN 1 Subang ).
Dari pengalaman siswa tersebut bisa dijadikan pembelajaran untuk kita semua, diantaranya :
1. Belajar mengenali lingkungan sekitar terutama daerah pemasarannya (market share)
2. Belajar berekonomi terutama dalam menghitung harga jual dari modal awal, biaya produksi dan laba yang diinginkan
3. Belajar berkompetisi melalui taste ( rasa ), kemasan, bentuk penyajian dan hygienitasnya.
4. Belajar berkomunikasi dalam hal promosi
5. Tidak malu, jujur dan tetap percaya diri
6. Dan yang paling pokok adalah belajar untuk menanamkan sikap “ Jiwa Wirausaha “ seperti apa yang terdapat dalam salah satu tujuan pembelajaran IPS Terpadu.
Akhirnya semoga dari pengalaman siswa tersebut bisa dijadikan inspirasi bagi kita semua bahwa jiwa wirausaha tersebut selalu ada pada setiap orang asalkan kita bisa dan mau menggali potensi yang ada pada diri kita masing-masing. Ibu berharap siswa-siswa yang lain bisa mengikuti langkahmu.
Semoga tercapai cita-citamu dan jiwa wira usahamu tambah berkembang. Terimakasih Nur Azizah, gorengan mu ueeenak tenan.

Senin, 11 Mei 2009

Guru ekonomi yang reaktif, yang bagaimana sih...?

Oleh: Euis Winarni, SE

Dalam kurikulum sekolah, mata pelajaran IPS Terpadu khususnya mata pelajaran Ekonomi berfungsi untuk mengembangkan kemampuan siswa untuk berekonomi dengan cara mengenal berbagai kenyataan dan peristiwa ekonomi, memahami konsep dan teori serta berlatih memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Ekonomi merupakan ilmu tentang upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang bervariasi, banyak dan berkembang melalui pilihan kegiatan produksi, konsumsi dan/atau distribusi.

Mata pelajaran ekonomi di sekolah bertujuan sebagai berikut:

  1. Membekali siswa tentang konsep ekonomi untuk mengetahui dan mengerti peristiwa dan masalah ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, terutama hal-hal yang terjadi di lingkungan individu/rumah tangga, desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, nasional, regional, dan internasional.
  2. Membekali siswa tentang konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi pada jenjang selanjutnya.
  3. Membekali nila-nilai serta etika ekonomi/bisnis dan memiliki jiwa wirausaha.

Mata pelajaran ekonomi bukan merupakan mata pelajaran hafalan, para siswa harus diajak untuk berekonomi dengan cara mengenal berbagai kenyataan dan peristiwa ekonomi, oleh sebab itu pembelajaran ekonomi perlu menggunakan model inovatif, yakni model pembelajaran yang mampu menempatkan siswa sebagai subjek belajar, peristiwa dan masalah ekonomi sebagai sumber belajar sedangkan guru sebagai pihak yang mengkondisikan dan memotivasi siswa untuk belajar.

Motivasi akan dapat tercipta kalau guru dapat meyakinkan siswa akan kegunaan materi pelajaran bagi kehidupan nyata. Guru juga harus dapat menciptakan situasi sehingga materi pelajaran selalu menarik, tidak membosankan. Guru harus punya sensitivitas yang tinggi untuk segera mengetahui apakah kegiatan pembelajaran sudah membosankan siswa atau tidak kemudian mencari cara untuk menanggulanginya.

Berikut ciri guru reaktif, antara lain:

a. Menjadikan siswa sebagai pusat kegiatan belajar.

b. Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui dan dipahami siswa.

c. Selalu berupaya membangkitkan motivasi belajar siswa dengan membuat materi pelajaran sebagi sesuatu hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan siswa.

d. Segera mengenali materi pembelajaran yang membuat siswa bosan, dan segera menanggulanginya.


Namun demikian hal ini sulit diterapkan tergantung lingkungan sekolah dimana kita berada. Sebagai contoh: cara belajar siswa di perkotaan tidak bisa dibandingkan dengan cara belajar siswa di daerah pinggiran yang saran dan prasarananya jauh dari memadai. Tapi hal ini merupakan suatu tantangan yang harus dihadapi guru untuk mewujudkan generasi muda yang mumpuni.



Dasim Budimansyah. 2003. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio Ekonomi. Bandung: PT. Ganesindo

Dian Sukmara. 2007. Implementasi Life Skill dalam KTSP. Bandung: Mughni Sejahtera


 

Total Tayangan Halaman